Minggu, 16 Juni 2013

Talking To The Moon ( Just Dreaming About Bieber)

                                                    Talking To The Moon.

mungkin hanya orang gila yang mau melakukan hal ini.
hal apa? berbicara pada bulan seolah olah dia mendengar semuanya.
seolah olah dia adalah pacarmu yang telah pergi karena kebodohanmu. menyia-nyiakannya.
aku bahkan maasih sangat ingat malam itu, malam dimana ia meninggalkanku.
malam dimana aku benar benar telah melakukan hal terbodoh. membiarkan seseorang yang benar benar aku cintai pergi meninggalkanku.

---------------------------------------------------------------------------------
"Justin! aku muak! benar benar muak! aku muak melihatmu dengan gadis gadis itu. aku muak dengan sifatmu yang hari kehari makin berubah. aku muak dengan semua ini! kau masih menganggapku Justin? masihkah kau mencintaiku? 3 tahun kita tinggal seatap! 2 tahun aku tak pernah mendengar kau mengatakan aku cinta padamu! setahun aku menahan perasaan ini! bersabar dan coba tegar berada disampingmu. berharap suatu saat kau berubah! namun apa? aku salah, semuanya salah besar! aku sudah muak! biarkan aku pergi dan enyah dari hidupmu" Teriak pevita pada Justin sambil terisak.
"Oh, jadi kau ingin pergi? pergilah! enyahlah selamanya dri hidupku! aku bisa temukan seseorang yang jauh lebih sempurna dan setia darimu!"
"Apa? maksudmu aku tak setia?" tangisannya makin pecah dan air matanya sungguh tak dapat dibendungnya lagi. Kepalanya serasa ingin meledak dan hatinya serasa hancur berkeping keping. rasanya ingin sekali ia lenyap dan hilang seketika dari kejadian ini.
"kau yang mengatakannya kan?" lelaki bertubuh kekar ini tertawa sinis
"apa maksudmu?" teriaknya menantang
"gadis seperti apa kau? sudah memiliki kekasih tpi tetap saja mau berdua-duaan dengan orang lain hah? kau fikir aku tak tau?"
"Justin.. aku menemuinya hanya untuk meminta bantuannya. kau tak pernah perduli lagi padaku! pada rumah kita! kau sungguh berubah. dan satu lagi! aku tak pernah selingkuh! kau.. kau yang selalu bersenang-senang dengan gadis lain diluar sana! kau lupakan aku. semua! semuanya." gadis ini menangis sejadi-jadinya dan berteriak didepan mata Justin.
"lalu kau ingin membalas dendam? begitu?"
"Hahh! kau sungguh egois! aku muak! muak dengan semua ini. baik, aku akan enyah selamanya dari hidupmu!" gadis ini segera membuka lemari pakaian dan mengambil semua pakaiannya sampai tak tersisa. hanya baju laki- laki ini sajalah yang tertinggal didalamnya. sambil terisak isak ia mengemas semua barangnya. tak ingin rasanya ia meninggalkan setitik kenangan pun disini. sembari menangis dan mengemas barangnya ia melirik kearah pria yang ia cintai 'dulu' ini. yang kini telah berubah sifatnya, tak lagi lembut pdanya, tak lagi perhatian padanya. tak lagi.. semuanya tak ada lagi. hanya kenangan yang ingin ia hapuslah yang tersisa. Namun, pria ini bukan malah keluar dari kamar atau memasang muka frustasi atau mencegahnya untuk pergi. dia malah asyik dengan ponselnya. ia bahkan tertawa dalam kesedihan gadis ini. tak ada sedikitpun rasa berasalah atau apalah yang dapat mencegah kepergiannya. hal ini bahkan malah memantapkannya untuk meninggalkannya dan mengahpus seluruh kenangan mereka. semuanya.. "Kau benar benar..." ia tak dapat melanjutkan perkataanya. ia hanya dapat menangis dan kemudian mengambil foto mereka berdua yang berada di atas lemari kecil didekat lampu tidur disisi tempat tidur yang ada disamping Justin duduk. "apa yang ingin kau lakukan pada foto itu?"
"memusnahkannya!" "oh bagus. lakukanlah!" Pria ini kembali melanjutkan kesibukannya pada ponselnya. Gadis ini memecahkan bingkai foto kenangan itu didepan Justin, namun pria itu sama sekali tak perduli. setelah bingkai itu pecah ia merobek robek foto itu menjadi potongan kecil dan membuangnya dimuka Justin "ini! sudah kuhancurkan semuanya! Selamat tinggal. terimakasih atas luka ini. terimakasih atas semuanya. semua hadiahmu masih ada didalam lemari. dan ini, ini kukembalikan padamu!" ia melempar kotak cincin pertunangan mereka kemuka Justin. Justin hanya memberikan muka datar, muak dan tak perduli. "Semoga kau menemukan gadis lain yang mampu menghadapi keegoisanmu!" Kemudian gadis itu berlalu dari wajah Justin dan membanting pintu hingga menimbulkan suara yang sangat keras. Justin masih tak merasakan arti hadirnya, tak merasakan betapa lemahnya dia tanpa Pevita. bahkan malam itupun ia masih dapat tidur nyenyak. bangun pagi, sarapan, dan melakukan aktivitas seperti biasanya. Namun, ketika malam tiba, ia teringat akan hal hal yang telah ia lakukan pada Pevita dan mulai kesepian tanpanya. rasanya otaknya berputar putar mengingat semua keegoisannya, bagaimana ia menyia nyiakan Pevita, melukainya, menelantarkannya. sedangkan ia bersenang senang diluar sana. Gadis itu bahkan masih masih bisa memberikan Justin senyuman saat pulang kerumah, walaupun ia membuatnya menangis setiap malam. dan masih bisa melayaninya setiap pagi sebelum berangkat bekerja,menyiapkan setiap perlengkapannya, menyiapkan sarapan, membereskan rumah. mengatur semuanya. namun apa? apa yang ia berikan? kedinginan dipagi hari, bentakan saat malam. "Tuhaaan.. aku benar benar menyesal telah menyia nyiakannya" Jeritan batin Justin. "Bisakah kau kembalikan ia padaku? bisakah kau berikan aku kesempatan kedua?" Justin menangis malam ini, menyesali semuanya. namun semuanya terlambat. Pevita telah enyah darinya. kini hanya ada penyesalan. tak ada yang bisa mendengarkannya. "Siapa? gadis gadis itu? They're just bitches. teman teman kerjaku? mereka hanya teman kerja, ya. hanya sebatas itu." Justin benar benar terpuruk. ia bahkan seperti orang gila, ia sangat terpuruk. bahkan untuk pergi bekerja saja ia tak sanggup. Fikirannya kacau, ia bahkan harus dipecat dari perusahaan yang mempekerjakannya karena bebagai kesalahan yang ia lakukan membuat perusahaannya merugi. kini ia benar benar merasa seperti berada didasar sumur. ia hanya dapat melihat bagaimana indahnya langit, bukan bagaimana indahnya sekelilingnya, atau bagaimana indahnya dunia. Sekelilingnya gelap, dan dingin. ia sendirian, kesepian, dan untuk melihat dunia? bagaimana aku dapat melihat dunia sedangkan aku ada didasar sumur terdalam? tak ada yang mau mendengarkannya. hanya suara seorang gadis yang ia hafal namun tak tahu darimana sumbernya, dan bulan yang ia anggap dapat menyampaikan semua pesannya pada Pevita. Malam ini, seperti biasa ia duduk dijendela kamarnya, menatap bulan dan berbicara padanya. "Heh! bulan. ini hari apa? Oh, senin. iya, ingat saat aku masih berkuliah? saat aku pertama sekali bertemu dengan Pevita. saat itu dia cantik sekali, aku bahkan jatuh hati saat pandangan pertama padanya. lalu aku menyatakan cintaku padanya dan dia menerimanya. lalu kami sama sama lulus dan sama sama mencari pekerjaan? setahun kemudian aku melamarnya dan aku menyuruhnya berhenti bekerja dan ia mau." Justin terkekeh saat bercerita, namun matanya tampak kosong. lalu ia melanjutkan ceritanya, tapi raut wajahnya berubah dan ia mulai bersedih "ia bahkan berkorban demi keluarga ini, tapi aku? aku menyia nyiakannya dan bahkan aku mengusirnya! aku.. aku lupa bagaimana cara membanggakannya. cara memanjakannya dan cara melindunginya! aku bahkan membiarkannya sakit dan melarangnya kerumah sakit sampai ia hampir sekarat dan mungkin ia bisa mati jika Michael tidak memarahiku habis-habisan dan membawanya ke rumah sakit dan bahkan Pevita masih membelaku! aku bodoh! aku tak bergunaaa!" Justin berteriak-teriak tak jelas dan meraung-raung. Memecahkan keheningan tengah malam dikota itu. sudah sebulan ia seperti ini, tetangganya sangat terganggu. dan sudah melaporkannya kepada pihak Polisi. namun mereka belum menanganinya dengan alasan yang tak jelas juga. Justin terus berteriak dan melempari semua barang yang ada disekelilingnya. bahkan suaranya terus saja menggaung dan membuat tetangganya resah.
dari rumah sebelah terdengar bayi menangis dan seorang wanita yang bercarut "Pria gila itu menjerit lagi dan membangunkan bayiku! seberapa banyak pekerjaan polisi dikota ini? sehingga menanganinya saja tak bisa!" wanita itu terus saja mengomel dan kemudian membuka jendelanya dan berteriak pada Justin "Hey pria gila! bisakah kau membiarkan kami tidur nyenyak semalam ini saja? tidak bisakah kau? hah?"
Justin hanya diam "tidakkah kau mendengarkanku bedebah?" Wanita ini terus berteriak dan memaki Justin.
"kau tak tahu betapa dia sangat berarti bagiku. dialah segalanya yang kumiliki"
"lalu kenapa kau menyia nyiakannya? kau bahkan berbicara pada Bulan yang tak dapat mendengar! setiap hari hanya itu yang kau ucapkan sampai aku hafal! dasar Manusia tak berguna!" wanita itu kemudian membanting jendelanya sehingga membuat Justin terkaget.
------------------------------------------------------------------------------------------
Pagi ini persediaan makanan Justin habis, berarti ia harus ke Pusat Perbelanjaan untuk membelinya. Justin hidup menggunakan sisa uang sakunya dari Perusahaan yang memecatnya, dan kini uang itu sangat menipis.
Justin berjalan menuju pusat perbelanjaan itu. orang-orang sekitarnya memandanginya risih, namun Justin sudah sangat biasa dengan hal ini. ditelinganya bahkan bergaung gaung mereka berkata "Pria itu gila karena ditinggal pergi tunangannya" sesampainya di pusat perbelanjaan dikota kecil ini. Justin memilih milih makanan yang ingin dibelinya sambil berkata "bagaimana jika yang ini? sepertinya ini mudah dimasak dan praktis. kau pasti menyukainya" dibenaknya ada seorang gadis yang menjawab "iya, itu saja. aku menyukainya. bagaimana jika kita membeli snack disana" "Baiklah, ayo kita kesana!" semua orang melihat kearahnya yang sedang berbicara seorang diri. namun ia sama sekali tak menggubrisnya. Namun, tak seperti biasanya. ia sebelum pulang singgah ke apotik. dia membeli sebotol obat disana. dan kemudian iya pulang kerumahnya.
******************
Seluruh kota gempar akan kematian pria ini, pasalnya ia mati bunuh diri karena over dosis dalam penggunaan obat tidur. Polisi masih menyelidiki kasus ini dan meminta keterangan pada mantan kekasihnya. pasalnya, polisi menemukan sebuah kertas beriisikan tulisan. saat dimintai keterangan oleh polisi, mantan kekasihnya ini terus saja menangis.

*********************************
Disebuah kamar sederhana berukuran 4x4 dengan ditemani sinar lampu yang temaram, dibawah biasan cahaya bulan. Pevita membuka sebuah Amplop yang telah disusun rapi oleh Justin, walaupun sebelumnya sempat dibuka oleh Pihak kepolisian, namun mereka membungkusnya kembali dengan rapi. Ia mencoba membaca isi surat yang ditulis Justin sebelum kepergiannya



Dear, Pevita Bieber
aku masih menggunakan nama keluargaku diakhir namamu kan? walaupun kau bukan istriku tapi kau bagian dari keluarga Bieber dan selamanya akan menjadi bagian dari kami. aku sungguh menyesal dan aku ingin bercerita tentang hari hariku kepadamu. Namun, akan terlalu panjang jika aku menuliskannya. jadi, akan lebih singkat jika aku menuangkannya dalam lagu. didalam amplop ini ada kertas yang berisikan lirikn lagunya dan didalam iPhone ini ada rekaman laguku. kau cari rekaman yang berjudul 'Talking To The Moon' .
aku berharap kau tau bagaimana susahnya aku bertahan hidup tanpamu. Aku ingin kau tahu itu Pevita. Aku sangat membutuhkanmu. Tapi aku masih tetap egois, aku bahkan tak mau mencarimu. Aku malu.. aku malu.


Tangisan Pevita pecah, dengan tangan bergetar. Ia mencoba membuka lembaran kedua.


              Talking To the Moon

I know you're somewhere out there
Somewhere far away
I want you back
I want you back
My neighbors think
I'm crazy
But they don't understand

You're all I had
You're all I had

At night when the stars
Light up my room
I sit by myself
Talking to the Moon.
Try to get to You
In hopes you're on
The other side
Talking to me too.
Or Am I a fool
Who sits alone
Talking to the moon?

Ohoooo...

I'm feeling like
I'm famous
The talk of the town
They say
I've gone mad
Yeah
I've gone mad

But they don't know
What I know
Cause when the
Sun goes down
Someone's talking back
Yeah
They're talking back

Ohhh

At night when the stars
Light up my room
I sit by myself
Talking to the moon.
Try to get to You
In hopes you're on
The other side
Talking to me too.
Or am I a fool
Who sits alone
Talking to the moon?

Ahh... Ahh... Ahh...
Do you ever hear me Caliing?
(Ahh... Ahh... Ahh...)
Ho hou ho ho hou

'Cause every night
I'm talking to the moon
Still try to get to you
In hopes you're on
The other side
Talking to me too
Or am I a fool
Who sits alone
Talking to the moon?

Ohoooo...

I know you're somewhere out there
Somewhere far away

Bahkan untuk membaca liriknya saja Pevita sungguh tidak tahan, hatinya terasa sangat sakit. Rasanya seperti ditusuki ribuan bahkan jutaan jarum yang sangat tajam. Sulit baginya untuk bernafas. Ia menyesal telah meninggalkan Justin. Menyesal telah menghilang dan tak mau tahu tentang Justin lagi.
Setelah menangis sekencang kencangnya, dia mencoba menenangkan dirinya. Perlahan, ia mulai membuka Ponsel Justin, mencoba mencari seperti apa yang telah dikatakan Justin.
Perlahan, ia mendengarkan lantunan lagu yang dinyanyikan Pria yang is sayangi itu, suaranya bahkan ia masih sangat hafal, lalu ia dengarkann. Didalam lagu itu, terkadang Justin terisak. Ditemani rekaman lagu Justin, Pevita membongkar kembali isi Amplop yang diberikan Justin itu. Tak ia sangka, terdapat satu surat lagi.

Dan karena keegoisanku itu, aku memilih untuk mengakhiri hidupku. Karena kufikir, hanya inilah satu satunya cara bagaimana kau bisa tahu betapa aku sangat menyesal telah menyia-nyiakanmu. Semua orang menyalahkanku, tanpa pernah bisa memberikanku solusi. Aku lelah dengan hidupku yang sekarang ini. Maaf Pevita, aku hanya bisa meminta maaf padamu melalui surat ini, dan inilah memang jalan satu-satunya untuk minta maaf padamu.
Jika kau telah membaca surat ini, kumohonkan padamu untuk memaafkanku. dan berjanjilah kau akan melupakanku.
Pevita, temukanlah orang yang benar-benar mencintaimu. Lupakan aku dan semua kenangan kita. Aku harap kau hidup bahagia. Dan jika kita telah ada di surga nanti, aku harap tuhan tak akan menemukan kita kembali. Aku terlalu malu untuk bertemu denganmu lagi.
                                                                - Justin Drew Bieber
 “iya Justin. Aku akan berjanji padamu. Aku akan melupakanmu, akan kutemukan seseorang yang benar-benar mencintaiku. Dan aku setiap hari akan berdo’a kepada Tuhan, supaya nanti jika kita di Surga. Kita tak akan dipertemukan kembali. Aku tak mau kau malu. Dan sebelum kau minta maaf, aku benar-benar telah memaafkanmu”
                                                                     
                                                            -THE END-