Talking To The Moon.
mungkin hanya orang gila yang mau melakukan hal ini.
hal apa? berbicara pada bulan seolah olah dia mendengar semuanya.
seolah olah dia adalah pacarmu yang telah pergi karena kebodohanmu. menyia-nyiakannya.
aku bahkan maasih sangat ingat malam itu, malam dimana ia meninggalkanku.
malam dimana aku benar benar telah melakukan hal terbodoh. membiarkan seseorang yang benar benar aku cintai pergi meninggalkanku.
---------------------------------------------------------------------------------
"Justin!
aku muak! benar benar muak! aku muak melihatmu dengan gadis gadis itu.
aku muak dengan sifatmu yang hari kehari makin berubah. aku muak dengan
semua ini! kau masih menganggapku Justin? masihkah kau mencintaiku? 3
tahun kita tinggal seatap! 2 tahun aku tak pernah mendengar kau
mengatakan aku cinta padamu! setahun aku menahan perasaan ini! bersabar
dan coba tegar berada disampingmu. berharap suatu saat kau berubah!
namun apa? aku salah, semuanya salah besar! aku sudah muak! biarkan aku
pergi dan enyah dari hidupmu" Teriak pevita pada Justin sambil terisak.
"Oh,
jadi kau ingin pergi? pergilah! enyahlah selamanya dri hidupku! aku
bisa temukan seseorang yang jauh lebih sempurna dan setia darimu!"
"Apa?
maksudmu aku tak setia?" tangisannya makin pecah dan air matanya
sungguh tak dapat dibendungnya lagi. Kepalanya serasa ingin meledak dan
hatinya serasa hancur berkeping keping. rasanya ingin sekali ia lenyap
dan hilang seketika dari kejadian ini.
"kau yang mengatakannya kan?" lelaki bertubuh kekar ini tertawa sinis
"apa maksudmu?" teriaknya menantang
"gadis seperti apa kau? sudah memiliki kekasih tpi tetap saja mau berdua-duaan dengan orang lain hah? kau fikir aku tak tau?"
"Justin..
aku menemuinya hanya untuk meminta bantuannya. kau tak pernah perduli
lagi padaku! pada rumah kita! kau sungguh berubah. dan satu lagi! aku
tak pernah selingkuh! kau.. kau yang selalu bersenang-senang dengan
gadis lain diluar sana! kau lupakan aku. semua! semuanya." gadis ini
menangis sejadi-jadinya dan berteriak didepan mata Justin.
"lalu kau ingin membalas dendam? begitu?"
"Hahh!
kau sungguh egois! aku muak! muak dengan semua ini. baik, aku akan
enyah selamanya dari hidupmu!" gadis ini segera membuka lemari pakaian
dan mengambil semua pakaiannya sampai tak tersisa. hanya baju laki- laki
ini sajalah yang tertinggal didalamnya. sambil terisak isak ia mengemas
semua barangnya. tak ingin rasanya ia meninggalkan setitik kenangan pun
disini. sembari menangis dan mengemas barangnya ia melirik kearah pria
yang ia cintai 'dulu' ini. yang kini telah berubah sifatnya, tak lagi
lembut pdanya, tak lagi perhatian padanya. tak lagi.. semuanya tak ada
lagi. hanya kenangan yang ingin ia hapuslah yang tersisa. Namun, pria
ini bukan malah keluar dari kamar atau memasang muka frustasi atau
mencegahnya untuk pergi. dia malah asyik dengan ponselnya. ia bahkan
tertawa dalam kesedihan gadis ini. tak ada sedikitpun rasa berasalah
atau apalah yang dapat mencegah kepergiannya. hal ini bahkan malah
memantapkannya untuk meninggalkannya dan mengahpus seluruh kenangan
mereka. semuanya.. "Kau benar benar..." ia tak dapat melanjutkan
perkataanya. ia hanya dapat menangis dan kemudian mengambil foto mereka
berdua yang berada di atas lemari kecil didekat lampu tidur disisi
tempat tidur yang ada disamping Justin duduk. "apa yang ingin kau
lakukan pada foto itu?"
"memusnahkannya!" "oh bagus.
lakukanlah!" Pria ini kembali melanjutkan kesibukannya pada ponselnya.
Gadis ini memecahkan bingkai foto kenangan itu didepan Justin, namun
pria itu sama sekali tak perduli. setelah bingkai itu pecah ia merobek
robek foto itu menjadi potongan kecil dan membuangnya dimuka Justin
"ini! sudah kuhancurkan semuanya! Selamat tinggal. terimakasih atas luka
ini. terimakasih atas semuanya. semua hadiahmu masih ada didalam
lemari. dan ini, ini kukembalikan padamu!" ia melempar kotak cincin
pertunangan mereka kemuka Justin. Justin hanya memberikan muka datar,
muak dan tak perduli. "Semoga kau menemukan gadis lain yang mampu
menghadapi keegoisanmu!" Kemudian gadis itu berlalu dari wajah Justin
dan membanting pintu hingga menimbulkan suara yang sangat keras. Justin
masih tak merasakan arti hadirnya, tak merasakan betapa lemahnya dia
tanpa Pevita. bahkan malam itupun ia masih dapat tidur nyenyak. bangun
pagi, sarapan, dan melakukan aktivitas seperti biasanya. Namun, ketika
malam tiba, ia teringat akan hal hal yang telah ia lakukan pada Pevita
dan mulai kesepian tanpanya. rasanya otaknya berputar putar mengingat
semua keegoisannya, bagaimana ia menyia nyiakan Pevita, melukainya,
menelantarkannya. sedangkan ia bersenang senang diluar sana. Gadis itu
bahkan masih masih bisa memberikan Justin senyuman saat pulang kerumah,
walaupun ia membuatnya menangis setiap malam. dan masih bisa melayaninya
setiap pagi sebelum berangkat bekerja,menyiapkan setiap
perlengkapannya, menyiapkan sarapan, membereskan rumah. mengatur
semuanya. namun apa? apa yang ia berikan? kedinginan dipagi hari,
bentakan saat malam. "Tuhaaan.. aku benar benar menyesal telah menyia
nyiakannya" Jeritan batin Justin. "Bisakah kau kembalikan ia padaku?
bisakah kau berikan aku kesempatan kedua?" Justin menangis malam ini,
menyesali semuanya. namun semuanya terlambat. Pevita telah enyah
darinya. kini hanya ada penyesalan. tak ada yang bisa mendengarkannya.
"Siapa? gadis gadis itu? They're just bitches. teman teman kerjaku?
mereka hanya teman kerja, ya. hanya sebatas itu." Justin benar benar
terpuruk. ia bahkan seperti orang gila, ia sangat terpuruk. bahkan untuk
pergi bekerja saja ia tak sanggup. Fikirannya kacau, ia bahkan harus
dipecat dari perusahaan yang mempekerjakannya karena bebagai kesalahan
yang ia lakukan membuat perusahaannya merugi. kini ia benar benar merasa
seperti berada didasar sumur. ia hanya dapat melihat bagaimana indahnya
langit, bukan bagaimana indahnya sekelilingnya, atau bagaimana indahnya
dunia. Sekelilingnya gelap, dan dingin. ia sendirian, kesepian, dan
untuk melihat dunia? bagaimana aku dapat melihat dunia sedangkan aku ada
didasar sumur terdalam? tak ada yang mau mendengarkannya. hanya suara
seorang gadis yang ia hafal namun tak tahu darimana sumbernya, dan bulan
yang ia anggap dapat menyampaikan semua pesannya pada Pevita. Malam
ini, seperti biasa ia duduk dijendela kamarnya, menatap bulan dan
berbicara padanya. "Heh! bulan. ini hari apa? Oh, senin. iya, ingat saat
aku masih berkuliah? saat aku pertama sekali bertemu dengan Pevita.
saat itu dia cantik sekali, aku bahkan jatuh hati saat pandangan pertama
padanya. lalu aku menyatakan cintaku padanya dan dia menerimanya. lalu
kami sama sama lulus dan sama sama mencari pekerjaan? setahun kemudian
aku melamarnya dan aku menyuruhnya berhenti bekerja dan ia mau." Justin
terkekeh saat bercerita, namun matanya tampak kosong. lalu ia
melanjutkan ceritanya, tapi raut wajahnya berubah dan ia mulai bersedih
"ia bahkan berkorban demi keluarga ini, tapi aku? aku menyia nyiakannya
dan bahkan aku mengusirnya! aku.. aku lupa bagaimana cara
membanggakannya. cara memanjakannya dan cara melindunginya! aku bahkan
membiarkannya sakit dan melarangnya kerumah sakit sampai ia hampir
sekarat dan mungkin ia bisa mati jika Michael tidak memarahiku
habis-habisan dan membawanya ke rumah sakit dan bahkan Pevita masih
membelaku! aku bodoh! aku tak bergunaaa!" Justin berteriak-teriak tak
jelas dan meraung-raung. Memecahkan keheningan tengah malam dikota itu.
sudah sebulan ia seperti ini, tetangganya sangat terganggu. dan sudah
melaporkannya kepada pihak Polisi. namun mereka belum menanganinya
dengan alasan yang tak jelas juga. Justin terus berteriak dan melempari
semua barang yang ada disekelilingnya. bahkan suaranya terus saja
menggaung dan membuat tetangganya resah.
dari rumah sebelah
terdengar bayi menangis dan seorang wanita yang bercarut "Pria gila itu
menjerit lagi dan membangunkan bayiku! seberapa banyak pekerjaan polisi
dikota ini? sehingga menanganinya saja tak bisa!" wanita itu terus saja
mengomel dan kemudian membuka jendelanya dan berteriak pada Justin "Hey
pria gila! bisakah kau membiarkan kami tidur nyenyak semalam ini saja?
tidak bisakah kau? hah?"
Justin hanya diam "tidakkah kau mendengarkanku bedebah?" Wanita ini terus berteriak dan memaki Justin.
"kau tak tahu betapa dia sangat berarti bagiku. dialah segalanya yang kumiliki"
"lalu
kenapa kau menyia nyiakannya? kau bahkan berbicara pada Bulan yang tak
dapat mendengar! setiap hari hanya itu yang kau ucapkan sampai aku
hafal! dasar Manusia tak berguna!" wanita itu kemudian membanting
jendelanya sehingga membuat Justin terkaget.
------------------------------------------------------------------------------------------
Pagi
ini persediaan makanan Justin habis, berarti ia harus ke Pusat
Perbelanjaan untuk membelinya. Justin hidup menggunakan sisa uang
sakunya dari Perusahaan yang memecatnya, dan kini uang itu sangat
menipis.
Justin berjalan menuju pusat perbelanjaan itu.
orang-orang sekitarnya memandanginya risih, namun Justin sudah sangat
biasa dengan hal ini. ditelinganya bahkan bergaung gaung mereka berkata
"Pria itu gila karena ditinggal pergi tunangannya" sesampainya di pusat
perbelanjaan dikota kecil ini. Justin memilih milih makanan yang ingin
dibelinya sambil berkata "bagaimana jika yang ini? sepertinya ini mudah
dimasak dan praktis. kau pasti menyukainya" dibenaknya ada seorang gadis
yang menjawab "iya, itu saja. aku menyukainya. bagaimana jika kita
membeli snack disana" "Baiklah, ayo kita kesana!" semua orang melihat
kearahnya yang sedang berbicara seorang diri. namun ia sama sekali tak
menggubrisnya. Namun, tak seperti biasanya. ia sebelum pulang singgah ke
apotik. dia membeli sebotol obat disana. dan kemudian iya pulang
kerumahnya.
******************
Seluruh kota
gempar akan kematian pria ini, pasalnya ia mati bunuh diri karena over
dosis dalam penggunaan obat tidur. Polisi masih menyelidiki kasus ini
dan meminta keterangan pada mantan kekasihnya. pasalnya, polisi
menemukan sebuah kertas beriisikan tulisan. saat dimintai keterangan
oleh polisi, mantan kekasihnya ini terus saja menangis.
*********************************
Disebuah
kamar sederhana berukuran 4x4 dengan ditemani sinar lampu yang temaram,
dibawah biasan cahaya bulan. Pevita membuka sebuah Amplop yang telah
disusun rapi oleh Justin, walaupun sebelumnya sempat dibuka oleh Pihak
kepolisian, namun mereka membungkusnya kembali dengan rapi. Ia mencoba
membaca isi surat yang ditulis Justin sebelum kepergiannya
Dear, Pevita Bieberaku masih menggunakan nama keluargaku diakhir namamu kan? walaupun kau bukan istriku tapi kau bagian dari keluarga Bieber dan selamanya akan menjadi bagian dari kami. aku sungguh menyesal dan aku ingin bercerita tentang hari hariku kepadamu. Namun, akan terlalu panjang jika aku menuliskannya. jadi, akan lebih singkat jika aku menuangkannya dalam lagu. didalam amplop ini ada kertas yang berisikan lirikn lagunya dan didalam iPhone ini ada rekaman laguku. kau cari rekaman yang berjudul 'Talking To The Moon' .aku berharap kau tau bagaimana susahnya aku bertahan hidup tanpamu. Aku ingin kau tahu itu Pevita. Aku sangat membutuhkanmu. Tapi aku masih tetap egois, aku bahkan tak mau mencarimu. Aku malu.. aku malu.
Tangisan Pevita pecah, dengan tangan bergetar. Ia mencoba membuka lembaran kedua.
Talking To the Moon
I know you're somewhere out there
Somewhere far away
I want you back
I want you back
My neighbors think
I'm crazy
But they don't understand
You're all I had
You're all I had
At night when the stars
Light up my room
I sit by myself
Talking to the Moon.
Try to get to You
In hopes you're on
The other side
Talking to me too.
Or Am I a fool
Who sits alone
Talking to the moon?
Ohoooo...
I'm feeling like
I'm famous
The talk of the town
They say
I've gone mad
Yeah
I've gone mad
But they don't know
What I know
Cause when the
Sun goes down
Someone's talking back
Yeah
They're talking back
Ohhh
At night when the stars
Light up my room
I sit by myself
Talking to the moon.
Try to get to You
In hopes you're on
The other side
Talking to me too.
Or am I a fool
Who sits alone
Talking to the moon?
Ahh... Ahh... Ahh...
Do you ever hear me Caliing?
(Ahh... Ahh... Ahh...)
Ho hou ho ho hou
'Cause every night
I'm talking to the moon
Still try to get to you
In hopes you're on
The other side
Talking to me too
Or am I a fool
Who sits alone
Talking to the moon?
Ohoooo...
I know you're somewhere out there
Somewhere far away
Bahkan
untuk membaca liriknya saja Pevita sungguh tidak tahan, hatinya terasa
sangat sakit. Rasanya seperti ditusuki ribuan bahkan jutaan jarum yang
sangat tajam. Sulit baginya untuk bernafas. Ia menyesal telah
meninggalkan Justin. Menyesal telah menghilang dan tak mau tahu tentang
Justin lagi.
Setelah menangis sekencang kencangnya, dia
mencoba menenangkan dirinya. Perlahan, ia mulai membuka Ponsel Justin,
mencoba mencari seperti apa yang telah dikatakan Justin.
Perlahan,
ia mendengarkan lantunan lagu yang dinyanyikan Pria yang is sayangi
itu, suaranya bahkan ia masih sangat hafal, lalu ia dengarkann. Didalam
lagu itu, terkadang Justin terisak. Ditemani rekaman lagu Justin, Pevita
membongkar kembali isi Amplop yang diberikan Justin itu. Tak ia sangka,
terdapat satu surat lagi.
Dan karena keegoisanku itu, aku memilih untuk mengakhiri hidupku. Karena kufikir, hanya inilah satu satunya cara bagaimana kau bisa tahu betapa aku sangat menyesal telah menyia-nyiakanmu. Semua orang menyalahkanku, tanpa pernah bisa memberikanku solusi. Aku lelah dengan hidupku yang sekarang ini. Maaf Pevita, aku hanya bisa meminta maaf padamu melalui surat ini, dan inilah memang jalan satu-satunya untuk minta maaf padamu.Jika kau telah membaca surat ini, kumohonkan padamu untuk memaafkanku. dan berjanjilah kau akan melupakanku.Pevita, temukanlah orang yang benar-benar mencintaimu. Lupakan aku dan semua kenangan kita. Aku harap kau hidup bahagia. Dan jika kita telah ada di surga nanti, aku harap tuhan tak akan menemukan kita kembali. Aku terlalu malu untuk bertemu denganmu lagi.
- Justin Drew Bieber
“iya
Justin. Aku akan berjanji padamu. Aku akan melupakanmu, akan kutemukan
seseorang yang benar-benar mencintaiku. Dan aku setiap hari akan berdo’a
kepada Tuhan, supaya nanti jika kita di Surga. Kita tak akan
dipertemukan kembali. Aku tak mau kau malu. Dan sebelum kau minta maaf,
aku benar-benar telah memaafkanmu”
-THE END-